Mutiara Hikmah 5

IMAN DAN ISTIQOMAH

Dari Abu Amrah bin Abdullah ara Tsaqafi dia berkata “wahai Rasulullah katakanlah kepada saya tentang Islam sebuah perkara yang tidak akan saya tanyakan kepada seorang pun selainmu”
Beliau bersabda “katakanlah saya beriman kepada Allah kemudian Istiqomah” (HR muslim)

Hadits ini memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada kita bahwa Iman saja belum cukup tanpa Istiqomah. Hal itu disebabkan, agama ini dibangun di atas dua hal, iman kepada Allah dan istiqomah. Iman ada di dalam hati dan istiqomah terdapat dalam anggota badan.

Istiqomah adalah senantiasa menetapkan ketaatan kepada Allah. Orang yang tidak istiqomah dalam melakukan usahanya, pasti akan sia-sia dan mengalami kegagalan.
Rasulullah bersabda yang artinya “istiqomahlah sekalipun kalian tetap tidak akan mampu” (hR Ahmad)

Dalam hadis yang lain rasulullah SAW bersabda, yang artinya “amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang continue walaupun itu sedikit” (HR muslim)

Sebagian orang ada yang sengaja menyedikitkan amalannya dengan menjadikan hadits ini sebagai dasar, ini kesalahan yang fatal karena dalam hadits ini rasulullah SAW sama sekali tidak melarang kita untuk memperbanyak amalan, rasulullah hanya mengingatkan kepada kita bahwa amalan yang rutin dilakukan meskipun sedikit itu lebih baik daripada amalan yang jumlahnya banyak tetapi tidak dilakukan secara rutin.

Dari sini dapat kita pahami bahwa ketika seseorang mampu melakukan amalan yang jumlahnya banyak dan dilakukan secara rutin, maka itu lebih baik daripada amalan sedikit yang dilakukan secara rutin pula.

Hadis ini membuktikan betapa pentingnya melakukan amalan secara rutin atau Istiqomah. Saking pentingnya maka rasulullah SAW pesan kepada Abdullah bin Amr Bin Al ash “wahai Abdullah, janganlah engkau seperti fulan. Dulu iya bisa mengerjakan salat malam, sekarang dia tidak mengerjakannya lagi” (HR Bukhari)

Istiqomah merupakan derajat yang tinggi, diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa
HARITSAH PEMUDA YANG ISTIQOMAH

Rasulullah adalah sosok yang sangat perhatian menanamkan hakikat istiqomah dalam jiwa anak-anak muda. Suatu ketika, kamu dengan haritsah yang saat itu baru menginjak usia 17 tahun. Usia remaja pada usia ini, kebanyakan orang tengah dibuai oleh berbagai keinginan, ingin hidup bebas, ingin melakukan ini dan itu. Akan tetapi, harta adalah contoh pemuda dalam keteguhan. Hal ini menunjukkan bahwa memang ada orang-orang yang hidupnya lurus dalam ketaatan.

Suatu pagi, Rasulullah bertemu dengan haritsah. Lalu terjadilah dialog seperti biasa.
“bagaimana kabarmu pagi ini wahai haritsah?” tanya Rasulullah

Jawaban umum untuk pertanyaan seperti ini adalah “Alhamdulillah baik-baik saja” atau “sehat-sehat saja” atau “ada sedikit persoalan” dan jawaban-jawaban serupa lainnya. Namun pemuda istiqamah seperti haritsah ini memiliki jawaban yang berbeda.
ia jawab dengan “pagi ini seakan-akan aku menyaksikan arsy Rabbku muncul. Seolah-olah aku menyaksikan ahli surga tengah menikmati hidangannya dan seakan-akan aku menyaksikan ahli neraka merintih kesakitan. Aku pun berpaling dari dunia untuk begadang (ibadah) di malam hari dan berlapar-lapar di siang hari (puasa)”

Subhanallah!
Kala itu haritsah baru menginjak usia 17 tahun. Namun, ia telah berpikir sedemikian besar. Ia meletakkan dunia sebagaimana sewajarnya, kecil di matanya. Di malam hari, ia qiamulail dan di siang hari ia berpuasa. Rasulullah pun menjawab “wahai haritsah, engkau telah tahu, berpegang teguhlah!”

“kau telah tahu, berpegang teguhlah!” artinya jadilah seorang lelaki sejati dan hidup luruslah. Apakah haritsah lalu benar-benar ?emegang teguh ataukah ia hanya seorang pemuda puber yang mendengar satu dua kata nasihat dari seorang lalu sirna begitu saja?

Oh, tidak. Haritsah benar-benar berpegang teguh. Buktinya, setahun setelah kisah ini, tibalah saatnya perang badar dan kaum muslimin keluar untuk bertempur. sebelum perang dimulai, diketahui bahwa pasukan muslimin termuda ternyata bernama haritsah, pemuda itu. Bahkan sebelum perang berkecamuk, sebuah anak panah melesat dari seorang kafir, anak panah itu pun meluncur menembus leher haritsah, dan ia pun gugur sebagai syahid.

Ibu haritsah terpogoh-pogoh datang kepada Rasulullah “wahai Rasulullah, di surga kah haritsah, sehingga aku bahagia, atau di neraka sehingga aku akan sungguh-sungguh berdoa untuknya.”

Rasulullah pun menjawab ” wahai ibu haritsah, ia bukan hanya berada di satu surga, bahkan di banyak surga. Anakmu memperoleh surga firdaus yang tertinggi” (HR Bukhari)

About Author: admin