Bersama _Al Ustadz S. Asadullah_

*MEMELIHARA UKHUWAH*

Allah _Subhanahu wa ta’ala_ berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

_”Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”_


(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 10)

*MUQADDIMAH*
Sesungguhnya Islam sangat menekankan persaudaraan dan persatuan. Bahkan Islam itu sendiri datang untuk mempersatukan pemeluk-pemeluknya, bukan untuk memecah belah.

Persaudaraan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan, bukan hanya dalam kalangan keluarga, tetapi juga antar masyarakat, antar negara, maupun antar agama. Dalam agama islam persaudaraan tidak hanya merupakan hubungan antar dua orang atau lebih, tetapi juga menyangkut ketaatan dan keimanan seseorang kepada Allah Allah _’Azza wa Jalla_.

*HIKMAH*
Pelajaran yang dapat dipahami dari ayat tersebut, diantaranya :
*1. Orang-orang mukmin itu bersaudara*

Frasa

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ

Frasa ini menegaskan bahwa persaudaraan yang hakiki adalah persaudaraan dalam agama, yakni agama Islam.

Imam Ibnu Katsir menyatakan :

أي الجميع إخوة في الدين

_”Yakni semuanya adalah saudara dalam agama”._

Imam al-Qurthubi juga menuturkan :

أي في الدين والحرمة لا في النسب ،

_”Yakni, persaudaraan dalam agama dan kesucian , bukan dalan nasab.”_

Dalam Tafsir _Jalalain_ pun disebutkan :

إنما المؤمنون إخوة في الدين»

_”(Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah saudara) dalam agama”._

Selain itu, frasa ini diawali dengan kata _innamâ_. Kata _innamâ_ dalam frasa ini memberi makna _hashr_ (pembatasan). Artinya, tidak ada persaudaraan kecuali antar sesama Mukmin, dan tidak ada persaudaraan di antara Mukmin dan kafir.

Ini mengisyaratkan bahwa ukhuwah Islam sangat kuat, bahkan lebih kuat daripada persaudaraan nasab. Persaudaraan nasab bisa terputus karena perbedaan agama. Sebaliknya, ukhuwah Islam tidak terputus karena perbedaan nasab.

Imam al-Qurthubi menyebutkan :

ولهذا قيل : أخوة الدين أثبت من أخوة النسب ، فإن أخوة النسب تنقطع بمخالفة الدين ، وأخوة الدين لا تنقطع بمخالفة النسب

_”Karena itu dikatakan : ukhuwah Islam lebih kuat daripada persaudaraan nasab. Maka, persaudaraan nasab bisa terputus karena perbedaan agama. Sebaliknya, ukhuwah Islam tidak terputus karena perbedaan nasab.”_

Kuatnya persaudaraan Islam, digambarkan seperti tubuh yang satu. Di dalam hadis sahih disebutkan:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوادِّهم وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَوَاصُلِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بالحُمَّى والسَّهَر

_”Perumpamaan orang-orang mukmin dalam persahabatan kasih sayang dan persaudaraannya sama dengan satu tubuh; apabila salah satu anggotanya merasa sakit, maka rasa sakitnya itu menjalar ke seluruh tubuh menimbulkan demam dan tidak dapat tidur (istirahat).”_

Atau seperti satu bangunan. Di dalam hadis shahih disebutkan pula:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَان يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا ،

_”Orang mukmin (terhadap mukmin lainnya) bagaikan satu bangunan, satu sama lainnya saling kuat-menguatkan.”_ Lalu Rasulullah Saw. merangkumkan jari jemarinya.

Tentang *bagaimana bentuk perwujudan ukhuwah Islam* , banyak hal yang harus dilakukan. Diantaranya :

*Pertama*, tidak boleh saling menzhalimi dan menjerumuskan. Sesuai sabda Rasulullah _ShallalLahu ‘alaihi wasallam_ :

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ”

_”Orang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, ia tidak boleh berbuat aniaya terhadapnya dan tidak boleh pula menjerumuskannya.”_

*Kedua,* harus saling tolong-menolong dalam kebaikan. Dicantumkan dalam Tafsir Ibnu Katsir riwayat hadits shahih disebutkan:

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

_”Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama si hamba selalu menolong saudaranya.”_

*Ketiga,* saling mendoakan. Imam Ibnu Katsir juga mencantumkan riwayat di dalam kitab shahih disebutkan:

إِذَا دَعَا الْمُسْلِمُ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ قَالَ الْمَلَكُ: آمِينَ، وَلَكَ بِمِثْلِهِ”

_”Apabila seorang muslim berdoa untuk kebaikan saudaranya tanpa sepengetahuan yang bersangkutan, maka malaikat mengamininya dan mendoakan, “Semoga engkau mendapat hal yang serupa.”_

*Keempat*, tidak boleh saling hasad, jangan saling melakukan najasy, jangan kalian saling membenci, jangan kalian saling membelakangi, dan sebagainya

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah _Shallallahu alaihi wasallam_ bersabda:

لا تحاسدوا ولا تَناجَشُوا ولا تباغضوا ولا تدابروا ولا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ,وكونوا عباد الله إخواناً. اَلْمُسْلِمُ أَخُو المسلمِ: لا يَظْلِمُهُ ولا يَخْذُلُهُ ولا يَكْذِبُهُ ولا يَحْقِرُهُ. اَلتَّقْوَى هَهُنا – يُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاثَ مَرَّاتٍ- بِحَسْبِ امْرِيءٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخاهُ الْمُسْلِمَ. كُلُّ الْمسلمِ عَلَى المسلمِ حَرامٌ: دَمُهُ وَمالُهُ وعِرْضُهُ

_“Jangan kalian saling hasad, jangan saling melakukan najasy, jangan kalian saling membenci, jangan kalian saling membelakangi, jangan sebagian kalian membeli barang yang telah dibeli orang lain, dan jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim bagi lainnya, karenanya jangan dia menzhaliminya, jangan menghinanya, jangan berdusta kepadanya, dan jangan merendahkannya. Ketakwaan itu di sini -beliau menunjuk ke dadanya dan beliau mengucapkannya 3 kali-. Cukuplah seorang muslim dikatakan jelek akhlaknya jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim diharamkan mengganggu darah, harta, dan kehormatan muslim lainnya.”_ (HR. Muslim)

*Kelima*, saling mencintai sesama Muslim.* Rasul _ShallalLahu ‘alaihi wasallam_ bersabda:

لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا

_”Kalian tidak masuk surga hingga kalian beriman dan belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai …”_ (HR. Muslim).

Begitu pula kaum Muslim juga harus saling bersikap _dzillah_; meliputi kasih-sayang, welas asih, dan lemah lembut (QS al-Maidah [5]: 54); bersikap rahmah terhadap umat Islam (QS al-Fath [48]: 29); dan rendah hati kepada kaum Mukmin (QS al-Hijr [15]: 88), dan sebagainya.

Islam menolak setiap paham selain akidah Islam sebagai dasar persatuan, termasuk _’ashâbiyyah_ (fanatisme golongan) yang terlarang.

Rasulullah _ShallalLahu ‘alaihi wasallam_ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ

_”Tidak termasuk golongan kami orang yang menyerukan ‘ashabiyyah, yang berperang karena ‘ashabiyyah, dan yang mati membela ‘ashabiyyah”._ (HR. Abu Dawud).

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahws seseorang pernah bertanya kepada Rasul _ShallalLahu ‘alaihi wasallam,_ “Apakah seseorang mencintai kaumnya termasuk _’ashabiyyah_?” Beliau menjawab:

لاَوَلَكِنْ مِنْ الْعَصَبِيَّةِ أَنْ يُعِينَ الرَّجُلُ قَوْمَهُ عَلى الظُّلْمِ

_”Tidak. Akan tetapi, termasuk ‘ashabiyyah jika seseorang menolong kaumnya atas dasar kezaliman”._ (HR. Ibnu Majah).

*2. Perintah senantiasa memperbaiki persaudaraan*

Frasa

فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ

Imam Ibnu Katsir menuturkan :

يعني الفئتين المقتتلتين

_”Yakni di antara kedua golongan yang berperang itu.”_
Sebagaimana yang disebutkan di ayat sebelumnya.

Imam al-Qurthubi menjelaskan :

أي بين كل مسلمين تخاصما

_”Yakni antara 2 (dua) orang muslim bila ada permusuhan”._

Dalam Tafsir _Jalalain_ dinyatakan :
إذا تنازعا

_”(Karena itu damaikanlah antara kedua saudara kalian) apabila mereka berdua bersengketa.”_

Dalam bersaudara, normal dan alaminya kehidupan mereka diliputi kecintaan, perdamaian, dan persatuan. Jika terjadi sengketa dan peperangan di antara mereka, itu adalah penyimpangan dan tidak semestinya.

Jadi, hal itu, harus dikembalikan lagi ke keadaan normal dengan meng-ishlâh-kan mereka yang bersengketa. Yakni mengajak mereka untuk mencari solusinya pada hukum Allah dan Rasul-Nya.

*3. Perintah bertakwa agar mendapat rahmat*

Frasa

وَاتَّقُوا اللّٰهَ

Frasa ini mengingatkan agar senantiasa bertakwa, yakni di seluruh bidang kehidupan.

Imam Ibnu Katsir menyatakan :

أي في جميع أموركم
_”(bertakwalah) dalam semua urusan kalian.”_

Takwa harus dijadikan panduan dalam melakukan ishlâh dan semua perkara.

Dalam melakukan ishlâh itu, kaum Mukmin harus terikat dengan kebenaran dan keadilan; tidak berbuat zalim dan tidak condong pada salah satu pihak. Sebab, mereka semua adalah saudara yang disejajarkan oleh Islam. Artinya, sengketa itu harus diselesaikan sesuai dengan ketentuan hukum-hukum Allah, yakni bertahkîm pada syariat.

Lalu, Frasa

لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Imam Ibnu Katsir berkata :

وهذا تحقيق منه تعالى للرحمة لمن اتقاه

_”Ini merupakan pernyataan dari Allah Ta’ala yang mengandung kepastian bahwa Dia pasti memberikan rahmat-Nya kepada orang yang bertakwa kepada-Nya.”_

_WalLahu a’lamu bish-shawab_*Hikmah Kalam Ilahi #124*
Bersama _Al Ustadz S. Asadullah_

*MEMELIHARA UKHUWAH*

Allah _Subhanahu wa ta’ala_ berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

_”Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”_
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 10)

*MUQADDIMAH*
Sesungguhnya Islam sangat menekankan persaudaraan dan persatuan. Bahkan Islam itu sendiri datang untuk mempersatukan pemeluk-pemeluknya, bukan untuk memecah belah.

Persaudaraan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan, bukan hanya dalam kalangan keluarga, tetapi juga antar masyarakat, antar negara, maupun antar agama. Dalam agama islam persaudaraan tidak hanya merupakan hubungan antar dua orang atau lebih, tetapi juga menyangkut ketaatan dan keimanan seseorang kepada Allah Allah _’Azza wa Jalla_.

*HIKMAH*
Pelajaran yang dapat dipahami dari ayat tersebut, diantaranya :
*1. Orang-orang mukmin itu bersaudara*

Frasa

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ

Frasa ini menegaskan bahwa persaudaraan yang hakiki adalah persaudaraan dalam agama, yakni agama Islam.

Imam Ibnu Katsir menyatakan :

أي الجميع إخوة في الدين

_”Yakni semuanya adalah saudara dalam agama”._

Imam al-Qurthubi juga menuturkan :

أي في الدين والحرمة لا في النسب ،

_”Yakni, persaudaraan dalam agama dan kesucian , bukan dalan nasab.”_

Dalam Tafsir _Jalalain_ pun disebutkan :

إنما المؤمنون إخوة في الدين»

_”(Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah saudara) dalam agama”._

Selain itu, frasa ini diawali dengan kata _innamâ_. Kata _innamâ_ dalam frasa ini memberi makna _hashr_ (pembatasan). Artinya, tidak ada persaudaraan kecuali antar sesama Mukmin, dan tidak ada persaudaraan di antara Mukmin dan kafir.

Ini mengisyaratkan bahwa ukhuwah Islam sangat kuat, bahkan lebih kuat daripada persaudaraan nasab. Persaudaraan nasab bisa terputus karena perbedaan agama. Sebaliknya, ukhuwah Islam tidak terputus karena perbedaan nasab.

Imam al-Qurthubi menyebutkan :

ولهذا قيل : أخوة الدين أثبت من أخوة النسب ، فإن أخوة النسب تنقطع بمخالفة الدين ، وأخوة الدين لا تنقطع بمخالفة النسب

_”Karena itu dikatakan : ukhuwah Islam lebih kuat daripada persaudaraan nasab. Maka, persaudaraan nasab bisa terputus karena perbedaan agama. Sebaliknya, ukhuwah Islam tidak terputus karena perbedaan nasab.”_

Kuatnya persaudaraan Islam, digambarkan seperti tubuh yang satu. Di dalam hadis sahih disebutkan:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوادِّهم وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَوَاصُلِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بالحُمَّى والسَّهَر

_”Perumpamaan orang-orang mukmin dalam persahabatan kasih sayang dan persaudaraannya sama dengan satu tubuh; apabila salah satu anggotanya merasa sakit, maka rasa sakitnya itu menjalar ke seluruh tubuh menimbulkan demam dan tidak dapat tidur (istirahat).”_

Atau seperti satu bangunan. Di dalam hadis shahih disebutkan pula:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَان يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا ،

_”Orang mukmin (terhadap mukmin lainnya) bagaikan satu bangunan, satu sama lainnya saling kuat-menguatkan.”_ Lalu Rasulullah Saw. merangkumkan jari jemarinya.

Tentang *bagaimana bentuk perwujudan ukhuwah Islam* , banyak hal yang harus dilakukan. Diantaranya :

*Pertama*, tidak boleh saling menzhalimi dan menjerumuskan. Sesuai sabda Rasulullah _ShallalLahu ‘alaihi wasallam_ :

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ”

_”Orang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, ia tidak boleh berbuat aniaya terhadapnya dan tidak boleh pula menjerumuskannya.”_

*Kedua,* harus saling tolong-menolong dalam kebaikan. Dicantumkan dalam Tafsir Ibnu Katsir riwayat hadits shahih disebutkan:

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

_”Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama si hamba selalu menolong saudaranya.”_

*Ketiga,* saling mendoakan. Imam Ibnu Katsir juga mencantumkan riwayat di dalam kitab shahih disebutkan:

إِذَا دَعَا الْمُسْلِمُ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ قَالَ الْمَلَكُ: آمِينَ، وَلَكَ بِمِثْلِهِ”

_”Apabila seorang muslim berdoa untuk kebaikan saudaranya tanpa sepengetahuan yang bersangkutan, maka malaikat mengamininya dan mendoakan, “Semoga engkau mendapat hal yang serupa.”_

*Keempat*, tidak boleh saling hasad, jangan saling melakukan najasy, jangan kalian saling membenci, jangan kalian saling membelakangi, dan sebagainya

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah _Shallallahu alaihi wasallam_ bersabda:

لا تحاسدوا ولا تَناجَشُوا ولا تباغضوا ولا تدابروا ولا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ,وكونوا عباد الله إخواناً. اَلْمُسْلِمُ أَخُو المسلمِ: لا يَظْلِمُهُ ولا يَخْذُلُهُ ولا يَكْذِبُهُ ولا يَحْقِرُهُ. اَلتَّقْوَى هَهُنا – يُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاثَ مَرَّاتٍ- بِحَسْبِ امْرِيءٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخاهُ الْمُسْلِمَ. كُلُّ الْمسلمِ عَلَى المسلمِ حَرامٌ: دَمُهُ وَمالُهُ وعِرْضُهُ

_“Jangan kalian saling hasad, jangan saling melakukan najasy, jangan kalian saling membenci, jangan kalian saling membelakangi, jangan sebagian kalian membeli barang yang telah dibeli orang lain, dan jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim bagi lainnya, karenanya jangan dia menzhaliminya, jangan menghinanya, jangan berdusta kepadanya, dan jangan merendahkannya. Ketakwaan itu di sini -beliau menunjuk ke dadanya dan beliau mengucapkannya 3 kali-. Cukuplah seorang muslim dikatakan jelek akhlaknya jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim diharamkan mengganggu darah, harta, dan kehormatan muslim lainnya.”_ (HR. Muslim)

*Kelima*, saling mencintai sesama Muslim.* Rasul _ShallalLahu ‘alaihi wasallam_ bersabda:

لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا

_”Kalian tidak masuk surga hingga kalian beriman dan belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai …”_ (HR. Muslim).

Begitu pula kaum Muslim juga harus saling bersikap _dzillah_; meliputi kasih-sayang, welas asih, dan lemah lembut (QS al-Maidah [5]: 54); bersikap rahmah terhadap umat Islam (QS al-Fath [48]: 29); dan rendah hati kepada kaum Mukmin (QS al-Hijr [15]: 88), dan sebagainya.

Islam menolak setiap paham selain akidah Islam sebagai dasar persatuan, termasuk _’ashâbiyyah_ (fanatisme golongan) yang terlarang.

Rasulullah _ShallalLahu ‘alaihi wasallam_ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ

_”Tidak termasuk golongan kami orang yang menyerukan ‘ashabiyyah, yang berperang karena ‘ashabiyyah, dan yang mati membela ‘ashabiyyah”._ (HR. Abu Dawud).

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahws seseorang pernah bertanya kepada Rasul _ShallalLahu ‘alaihi wasallam,_ “Apakah seseorang mencintai kaumnya termasuk _’ashabiyyah_?” Beliau menjawab:

لاَوَلَكِنْ مِنْ الْعَصَبِيَّةِ أَنْ يُعِينَ الرَّجُلُ قَوْمَهُ عَلى الظُّلْمِ

_”Tidak. Akan tetapi, termasuk ‘ashabiyyah jika seseorang menolong kaumnya atas dasar kezaliman”._ (HR. Ibnu Majah).

*2. Perintah senantiasa memperbaiki persaudaraan*

Frasa

فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ

Imam Ibnu Katsir menuturkan :

يعني الفئتين المقتتلتين

_”Yakni di antara kedua golongan yang berperang itu.”_
Sebagaimana yang disebutkan di ayat sebelumnya.

Imam al-Qurthubi menjelaskan :

أي بين كل مسلمين تخاصما

_”Yakni antara 2 (dua) orang muslim bila ada permusuhan”._

Dalam Tafsir _Jalalain_ dinyatakan :
إذا تنازعا

_”(Karena itu damaikanlah antara kedua saudara kalian) apabila mereka berdua bersengketa.”_

Dalam bersaudara, normal dan alaminya kehidupan mereka diliputi kecintaan, perdamaian, dan persatuan. Jika terjadi sengketa dan peperangan di antara mereka, itu adalah penyimpangan dan tidak semestinya.

Jadi, hal itu, harus dikembalikan lagi ke keadaan normal dengan meng-ishlâh-kan mereka yang bersengketa. Yakni mengajak mereka untuk mencari solusinya pada hukum Allah dan Rasul-Nya.

*3. Perintah bertakwa agar mendapat rahmat*

Frasa

وَاتَّقُوا اللّٰهَ

Frasa ini mengingatkan agar senantiasa bertakwa, yakni di seluruh bidang kehidupan.

Imam Ibnu Katsir menyatakan :

أي في جميع أموركم
_”(bertakwalah) dalam semua urusan kalian.”_

Takwa harus dijadikan panduan dalam melakukan ishlâh dan semua perkara.

Dalam melakukan ishlâh itu, kaum Mukmin harus terikat dengan kebenaran dan keadilan; tidak berbuat zalim dan tidak condong pada salah satu pihak. Sebab, mereka semua adalah saudara yang disejajarkan oleh Islam. Artinya, sengketa itu harus diselesaikan sesuai dengan ketentuan hukum-hukum Allah, yakni bertahkîm pada syariat.

Lalu, Frasa

لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Imam Ibnu Katsir berkata :

وهذا تحقيق منه تعالى للرحمة لمن اتقاه

_”Ini merupakan pernyataan dari Allah Ta’ala yang mengandung kepastian bahwa Dia pasti memberikan rahmat-Nya kepada orang yang bertakwa kepada-Nya.”_

_WalLahu a’lamu bish-shawab_

About Author: admin