Mutiara Hikmah 8

TOBATNYA SEORANG PEMABUK

Pada masa tabiin, hiduplah seorang penjahat terkenal yang suka membuat onar di daerah Basrah, irak. Utbah Al Ghulam, nama tokoh itu, dikenal sebagai pemabuk ulung (drinking master). Utbah juga ditakuti karena keberingasan nya saat berhadapan dengan musuh. Dia pun tak segan menghabisi atau membunuh korbannya.

Bukan hanya jahat, utbah sangat benci terhadap orang orang yang rajin beribadah. Hatinya geram setiap kali melihat orang orang pergi ke masjid. Hingga, suatu hari timbul rasa penasaran dari dalam diri utbah untuk ikut mendengarkan apa yang disampaikan penceramah pada acara pengajian. Dengan menggunakan penutup wajah, dia pun menyusup ke dalam suatu majelis.

Di sana, utbah mendengarkan ceramah seorang Imam. Kebetulan, guru yang memberikan materi kala itu adalah Imam Hasan Al bashri, seorang ulama terkemuka di kota Basrah. Hasan Al bashri merupakan ulama kelahiran Madinah pada tahun 21 H (642 M). Ia adalah anak dari seorang juru tulis Wahyu yang membantu Zaid bin Tsabit.

Dengan lembut, imam Hasan menguraikan Surat Al Hadid : 16, yang artinya, “belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Alkitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”

Hasan Al bashri kemudian membacakan tafsir ayat tersebut dengan nasihat yang sangat menyentuh hati. Banyak murid yang hadir dalam majelis itu menangis karena nasihat yang dia sampaikan. Seorang murid yang bertanya kepada Hasan Al bashri, “wahai guru kami, bagaimanakah jika ada seorang yang sudah keterlaluan melakukan maksiat, apakah dosanya masih diampuni Allah?”

Hasan Al bashri menjawab “apabila ia bertaubat dengan penuh kesadaran dan hati yang bersungguh-sungguh, sesuai dengan syarat-syaratnya, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya, sekalipun seperti Utbah Al Ghulam”

Mendengar jawaban Hasan Al bashri yang mengutip namanya, Utbah terkejut. Hasan Al bashri belum pernah bertemu dengannya dan belum pernah mengenalnya. Tapi, karena ia terkenal sebagai seorang yang fasik, ia dibuat perbandingan dalam soal dosa.

Rasa gundah utbah kian menjadi. Dia kemudian bertanya, “wahai orang yang bertaqwa, apakah Allah akan menerima orang seperti saya yang fasik, berdosa, apabila bertaubat kepadaNya” hasan Al bashri kemudian menjawab “ya, Allah akan menerima taubat atas kefasikan dan dosamu”

Mendengar itu, terguncang lah jiwa Utbah. Parasnya langsung berubah. Persendian di tubuhnya gemetar “ya Allah…..” teriaknya, kemudian pingsan. Ketika sadar, ia bertanya lagi pada Hasan al-bashri “wahai syeikh, apakah Allah yang maha pengasih dan penyayang akan mengampuni dosa orang yang laknat sepertiku ini?”

Hasan al-bashri kemudian menjawab “bukankah tiada yang menerima taubat seorang hamba yang jiwanya kosong selain Allah yang memaafkannya?”

Orang itu kemudian mengangkat kepalanya dan berdoa. ia mengajukan 3 permintaan kepada Allah.

“pertama, ya Rabbku, bila engkau menerima Taubat ku dan engkau mengampuni dosa ku, maka muliakanlah aku dengan pemahaman dan hafalan, sehingga aku dapat menghafalkan apa yang aku dengar dari ilmu dan Alquran”

Lalu, Utbah melanjutkan “kedua, ya Rabbku, muliakanlah aku dengan suara yang bagus, sehingga setiap orang yang mendengar bacaan ku semakin bertambah kasih dalam hatinya meskipun hatinya keras bagai batu”
“ketiga, ilahi, muliakanlah aku dengan rezeki yang halal dan berilah aku rezeki dari segala arah yang tak terduga”
Dengan izin Allah, semua permintaan pemuda itu terkabul. Bertambahlah pemahaman dan hafalan Alquran yang dikuasai Utbah.

Tiap dia membaca Alquran, banyak orang kemudian bertaubat karena mendengar keindahan suaranya. Ia juga meletakkan makanan di depan rumah-rumah orang yang tidak mampu. ia bersedekah hingga ajal menjemputnya.

Amal yang ia berikan lewat makanan tidak pernah diceritakan kepada penduduk sekitar. Ketika Utbah telah wafat, orang-orang miskin tidak mendapati makanan di depan rumahnya. Barulah, mereka menyadari, bahwa Utbah-lah yang selama ini meletakkan makanan di depan rumah mereka.

salam
H. Djaelani HN

About Author: admin