Mutiara Hikmah 6

KEBENARAN MENJADI BARANG ANTIK

Benar dan jujur dalam berucap, sikap dan perbuatan, tidak berpura-pura dan tidak berdusta. Ternyata hidup dan kehidupan yang Islami sangat memerlukan kejujuran dan keterbukaan. Karena kehidupan yang dijiwai dengan kejujuran itu akan membawa kepada ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan.

Sebaliknya kehidupan yang diliputi kepura-puraan, dusta, tipuan dan kebohongan hanyalah akan melahirkan suatu kehidupan yang bimbang, saling curiga dan saling menyangka.

Hadis Rasulullah menjelaskan :
Amalan surga itu jujur, maka apabila seseorang itu jujur (benar) berbuat baiklah dia dan apabila berbuat baik maka berimanlah dia, dan apabila beriman maka masuklah dia ke dalam surga.
Dan amalan orang neraka itu adalah dusta, dan apabila dusta, durhaka lah dia dan apabila durhaka, kafirlah dia dan apabila kafir, masuklah dia ke dalam neraka (HR Ahmad dan Ibnu Umar)

Kini jelas betapa eratnya hubungan antara iman, jujur dan amal saleh. Amal saleh itu merupakan buah dari iman, dan amal saleh itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang beriman yang berlaku jujur dalam hidupnya, dan dari kejujuran itu akan melahirkan kepercayaan dan kepercayaan itu merupakan modal untuk meraih kesuksesan dari segala bentuk usaha dan perjuangan. Sejarah membuktikan bahwa keberhasilan Rasulullah dalam mengemban misi perjuangan kerasulanya, berawal dari bermodalkan kejujuran dengan predikat al Amin yang beliau sandang sejak masa mudanya.

Kata orang, kebenaran itu sangat susah ditemukan. Sebenarnya bukan susah ditemukan, tetapi sangat sedikit yang berusaha mencarinya. Kebenaran kadang bersembunyi, dan kita harus mencarinya untuk menemukannya. Dalam ilmu logika, kebenaran ditemukan dengan cara menemukan bukti-bukti yang mendukung kebenaran itu. Jika tidak menemukan bukti apapun, maka bukan dianggap sebagai kebenaran.

Di sebuah majelis ilmu yang ramai, Nasrudin hoja sedang mengajar murid-muridnya. Ia duduk di atas mimbar dan melakukan ceramah. Murid-muridnya mendengarkan penjelasan mengenai suatu ilmu dengan penuh khidmat.

“kebenaran” kata Nasrudin hoja “adalah sesuatu yang berharga. Bukan hanya secara spiritual, tetapi juga memiliki harga material”

Pernyataan Nasrudin hoja itu membuat murid-muridnya bertanya-tanya. Salah satu muridnya kemudian bertanya.

“mengapa kita harus membayar untuk sebuah kebenaran, wahai tuan Nasrudin hoja?”

“ya, kita harus membayar sebab kadang-kadang kebenaran itu harganya mahal” jawab Nasrudin

“mengapa kebenaran itu harganya mahal?” tanya murid lainnya

“kalau engkau perhatikan” jawab Nasrudin hoja “harga sesuatu itu dipengaruhi juga oleh kelangkaannya. Makin langka sesuatu itu, makin mahal lah ia. Barang yang dibuat ribuan tahun lampau, kini mungkin sudah sedikit adanya. Barang itu menjadi antik dan mahal harganya”

Dengan analogi itu, para muridnya paham bahwa saat ini kebenaran sangat mahal harganya. Kelangkaan kebenaran menjadi sumber mahalnya kebenaran. Kelangkaan itu disebabkan orang-orang yang enggan untuk mencari kebenaran. Mereka hanya berpangku tangan dan merasa bahwa informasi yang mereka terima sudah benar semua. Mereka tidak mau mengkaji apakah informasi itu mengandung kebenaran atau tidak, tetapi sudah menyebarkan begitu saja.

salam
H. Djaelani HN

About Author: admin